Blog Apa Adanya


web widgets

Rabu, 09 Juli 2014

Instrumen Musik Tiup Marching Band

Instrumen musik tiup marching band
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
IInstrumen-instrumen musik tiup logam
Instrumen musik tiup marching band atau lebih dikenal dengan Marching brassmerupakan instrumen-instrumen musik tiup logam yang telah didisain untuk dimainkan sambil berjalan, umumnya instrumen musik tersebut digunakan dalam penampilan marching band. Perbedaan utama dengan instrumen musik tiup logam lainnya umumnya terdapat pada corong yang menghadap ke depan (bell-front), menggunakan sistem katup (antara tiga hingga empat katup), dan artikulasi yang dirancang untuk penampilan di lapangan terbuka (outdoor). Corong yang menghadap ke muka berfungsi untuk membuat suara yang dihasilkan dapat terproyeksi ke arah depan sesuai dengan posisi yang umumnya dipilih oleh penonton dalam sebuah pertunjukan marching band.
• 1 Terompet
• 2 Mellophone
• 3 Tenor Horn
• 4 Baritone Horn/Euphonium
• 5 Contra Bass/Tuba
• 6 Lihat pula
Terompet
Terompet dalam penampilan musik marching band digunakan sebagai soprano, umumnya memainkan melodi dalam musik. Meski demikian umumnya dalam aransemen musik marching band fungsionalitas soprano dibagi menjadi dua atau tiga kelompok untuk memainkan nada yang berbeda (biasanya mengisi rentang suara sopran, dan mezzo-sopran). DiIndonesia umumnya grup-grup marching band menggunakan terompet bernada dasar B♭, namun terdapat pula grup-grup marching band yang menggunakan terompet bernada dasar G.
Mellophone
Mellophone merupakan instrumen musik tiup yang ditujukan sebagai pengisi suara alto-soprano. Penggunaan mellophone dalam marching band umumnya lebih diminati karena suara dan intonasi yang dihasilkannya lebih konsisten dibandingkan instrumen musik sejenis seperti French Horn. Jenis mellphone yang paling banyak digunakan umumnya bernada dasar F, namun banyak pula ditemukan instrumen bernada dasar G. Biasanya sebuah instrumen mellophone memiliki kemampuan untuk dimainkan dengan nada dasar G ataupun F dengan mengganti panjang pipa udara yang umumnya tersedia sebagai bagian dalam kelengkapan instrumen tersebut.
Tenor Horn
Tenor horn dalam kategori ini merupakan jenis instrumen musik tiup logam dalam keluarga trombone tenor yang telah didisain secara khusus untuk keperluan marching band. Instrumen ini tidak menggunakan sistem geser melainkan menggunakan sistem katup untuk memainkannya, dan panjang dari instrumen ini lebih pendek dari trombone biasa dengan pipa suara yang menggunakan model lipat seperti yang terdapat pada instrumen musik tiup lain: terompet, mellophone. Beberapa pabrikan kadang-kadang memberi nama secara khusus untuk instrumen ini, misalnya: dynabone. Umumnya instrumen tenor horn yang digunakan oleh grup marching band di Indonesia menggunakan nada dasar B♭.
Baritone Horn/Euphonium
Meskipun memiliki fungsi yang sama dengan instrumen yang digunakan dalam pertunjukan orkestra, bentuk baritone horn ataueuphonium yang digunakan dalam penampilan marching band telah didisain secara khusus dengan corong menghadap ke muka dan umumnya telah dilengkapi dengan sistem tiga katup. Sesuai dengan namanya instrumen ini digunakan untuk mengisi suara dalam rentang nada baritone. Umumnya instrumen yang digunakan dalam penampilan marching band menggunakan nada dasar B♭.
Contra Bass/Tuba
Contra bass atau Tuba digunakan dalam penampilan musik marching band untuk mengisi suara dalam rentang nada bass. Perbedaan antara contra bass dan tuba terletak pada nada dasar yang digunakan pada instrumen tersebut. Jika nada dasar yang digunakan pada instrumen tersebut adalah G maka disebut dengan contra bass, sebaliknya bila menggunakan nada dasar B♭ maka dinamakan sebagai tuba. Seperti umumnya instrumen musik tiup logam yang digunakan dalam penampilan marching band, instrumen ini telah didisain pula untuk dimainkan sambil berjalan dengan corong menghadap ke depan. Namun berbeda dengan instrumen musik lainnya, karena ukurannya yang besar, untuk memainkan instrumen musik ini dilakukan dengan cara dipanggul.
Instrumen musik perkusi marching band
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Instrumen musik perkusi marching band atau disebut sebagai Marching percussion merupakan instrumen-instrumen musik perkusiyang didisain untuk dimainkan sambil berjalan dengan meletakkan drum pada alat pengait khusus (disebut dengan carrier) yang dikenakan oleh drummer. Drum-drum tersebut didisain dan disetem dengan artikulasi maksimum dan dilengkapi proyeksi suara karena aktivitas penggunaan yang umumnya di lapangan terbuka ataupun ruang tertutup yang luas. Instrumen ini biasanya digunakan oleh grupmarching band. Ensembel marching percussion sering pula disebut sebagai drumline atau battery. Tingkat kemampuan sebuah drumline tidak hanya bermain dengan baik, namun juga harus mampu untuk bermain dengan baik dalam tempo cepat ataupun lambat.
• 1 Snare drum
• 2 Drum tenor
• 3 Drum bass
• 4 Simbal
• 5 Pranala luar
Snare drum
Ukuran marching snare drum biasanya lebih dalam dari ukuran yang biasanya digunakan pada orkestra atau drumkit. Hal ini membuat suara yang dihasilkan menjadi lebih keras, sesuai dengan kebutuhannya untuk penggunaan di lapangan terbuka. Ukuran standar (diameter x kedalaman) adalah 13×11 dan 14×12 inci dengan berat antara 16-45 lb. Ukuran yang lebih kecil (13×9) akhir-akhir ini menjadi populer digunakan untuk kebutuhan penggunaan di lapangan tertutup. snare drum “high tension” modern dikembangkan sebagai jawaban atas tensi membran yang lebih tinggi yang dimungkinkan karena pemanfaatan serat fiber, atau kevlar. Drum tensi tinggi pertama kali dikembangkan oleh Legato di Australia, dan menjadi lebih sempurna saat mulai digunakan pada marching band.
Drum tenor
Marching band modern umumnya menggunakan multi-tenor, yang terdiri atas beberapa tom-tom yang dimainkan oleh seorang drummer. Bagian bawah drum biasanya terbuka dan dipotong menyiku untuk memproyeksikan suara ke arah depan. membran head menggunakan double-ply PET film untuk meningkatkan kualitas proyeksi suara. Alat ini umumnya dimainkan dengan menggunakan malet yang terbuat dari kayu atau aluminimum dengan ujung berbentuk bundar terbuat dari nilon.
Teknik permainan tenor drum umumnya berbeda dengan teknik yang digunakan untuk bermain snare drum, lebih mirip seperti bermain timpani karena membran dipukul biasanya lebih dekat pada sisi-sisinya dibandingkan bagian di tengah membran. Bentuk pukulan seperti ini menghasilkan suara yang lebih nyaring.
Drum tenor umumnya terdiri dari tom-tom berukuran 10, 12,13, dan 14 inci yang diatur membentuk busar, seringkali dengan tambahan satu atau dua buah tom yang lebih kecil (berukuran 6 atau 8 inci) di sisi sebelah dalam.
Drum bass
Ukuran drum bass yang digunakan pada ensembel perkusi modern bervariasi, dengan lebar universal 14 inci, dan diameter 14 inci dan bertambah setiap 2 inci. Membran drum biasanya terbuat dari PET film lembut berwarna putih. Tidak seperti snare drum dan drum tenor, drum bass dimainkan oleh drummer dari kedua sisinya. Umumnya sebuah drum line menggunakan 4 hingga 6 jenis drum bass dengan ukuran yang berbeda-beda, tiap satu drum bass dimainkan oleh seorang drummer.
Simbal
Simbal dalam marching band tidak dimainkan dengan tujuan yang sama seperti orkestra. Ada perubahan pada grip simbal yang dibuat khusus untuk kebutuhan marching band. Simbal marching band biasanya terdiri atas dua keping yang terpasang pada ke dua tangan pemainnya. Untuk memainkan simbal marching band kedua kepingan itu diadu satu dengan lainnya sehingga menghasilkan suara. Jumlah pemain simbal tiap-tiap grup marching band bisa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
Mayoret
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Mayoret merupakan seseorang yang melakukan aksi tari, atau gerakan dalam suatu penampilan parade drum band dengan menggunakan sebuah tongkat mayoret yang disebut dengan baton. Biasanya mayoret diperankan oleh seorang wanita, namun pada perkembangannya peran mayoret ini bisa pula dilakukan oleh laki-laki, umumnya ditemukan pada grup drum band kemiliteran. Peran mayoret awalnya merupakan asimilasi dari peranpemandu sorak yang diadaptasikan sedemikian rupa dalam penampilan parade drum band untuk menyeimbangkan dinamisasi pertunjukan dari kesan peran kaku pada barisan para pemain instrumen musik (termasuk di dalamnya pemain instrumen musik tiup dan perkusi). Seorang mayoret dapat melakukan berbagai macam aksi dalam penampilannya seperti memutar-mutar tongkat, bayonet, tongkat bendera, ataupun melempar baton. Mayoret kadang-kadang pula melakukan beragam atraksi sulap, ataupun atraksi tertentu untuk menarik perhatian seperti kombinasi memainkan, memutar-mutarkan, serta melempar hingga empat baton secara bersamaan.[1]
Di Indonesia, peran mayoret dalam sebuah grup drum band tidak hanya terbatas fungsinya sebagai penari, mayoret lebih sering memerankan sebagai pemimpin, pemandu barisan dalam membentuk suatu formasi dalam penampilan. Terkadang seorang mayoret dapat pula menggantikan fungsi komandan lapangan (dalam bahasa Inggris disebut Field Commander) pada saat-saat tertentu. Beberapa grup marching band di Indonesia masih menggunakan mayoret sebagai salah satu bagian dalam penampilannya, namun dalam perkembangannya keberadaan mayoret mulai ditanggalkan.
Orkes barisan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Orkes barisan (Inggris: marching band) adalah sekelompok barisan orang yang memainkan satu atau beberapa lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik (tiup, perkusi, dan sejumlah instrumen pit) secara bersama-sama. Penampilan orkes barisan merupakan kombinasi dari permainan musik (tiup, dan perkusi) serta aksi baris-berbaris dari pemainnya. Umumnya, penampilan Orkes barisan dipimpin oleh satu atau dua orang Komandan Lapangan dan dilakukan baik di lapangan terbuka maupun lapangan tertutup dalam barisan yang membentuk formasi dengan pola yang senantiasa berubah-ubah sesuai dengan alurkoreografi terhadap lagu yang dimainkan, dan diiringi pula dengan aksi tarian yang dilakukan oleh sejumlah pemain bendera.
Orkes barisan umumnya dikategorikan menurut fungsi, jumlah anggota, komposisi dan jenis peralatan yang digunakan, serta gaya atau corak penampilannya. Pada awalnya orkes barisan dikenal sebagai nama lain dari drum band. Penampilan orkes barisan pada mulanya adalah sebagai pengiring parade perayaan ataupun festival yang dilakukan di lapangan terbuka dalam bentuk barisan dengan pola yang tetap dan kaku, serta memainkan lagu-lagu mars. Dinamika keseimbangan penampilan diperoleh melalui atraksi individual yang dilakukan oleh mayoret, ataupun beberapa personel pemain instrumen. Namun saat ini permainan musik orkes barisan dapat dilakukan baik di lapangan terbuka ataupun tertutup sebagai sebagai pengisi acara dalam suatu perayaan, ataupun kejuaraan.
Komposisi musik yang dimainkan orkes barisan umumnya bersifat lebih harmonis dan tidak semata-mata memainkan lagu dalam bentuk mars, ragam peralatan yang digunakan lebih kompleks, formasi barisan yang lebih dinamis, dan corak penampilannya membuat orkes barisan merupakan kategori yang terpisah dan berbeda dengan drum band yang umumnya memiliki komposisi penggunaan instrumen perkusi yang lebih banyak dari instrumen musik tiup. Tipikal bentuk dan penampilan drum band yang paling dikenal adalah drum band yang dimiliki oleh institusi kemiliteran ataupun kepolisian. Adaptasi lebih lanjut dari penampilan orkes barisan di atas panggung adalah dalam bentuk brass band.
Sejarah
Orkes barisan bermula dari tradisi purba sebagai kegiatan yang dilakukan oleh beberapa musisi yang bermain musik secara bersama-sama dan dilakukan sambil berjalan untuk mengiringi suatu perayaan ataupun festival. Seiring dengan perjalananan waktu, orkes barisan berevolusi menjadi lebih terstruktur dalam kemiliteran di masa-masa awal era negara kota. Bentuk inilah yang menjadi dasar awal orkes militer yang kemudian menjadi awal munculnya orkes barisan saat ini.[1][2]
Meskipun pola orkes barisan telah berkembang jauh, masih terdapat cukup banyak tradisi militer yang bertahan dalam budaya orkes barisan, tradisi milter tersebut tampak pada atribut-atribut seragam yang digunakan, tata cara berjalan, model pemberian instruksi dalam latihan umumnya masih merupakan adaptasi dari tradisi militer yang telah disesuaikan sedemikian rupa.
Di Indonesia, budaya orkes barisan merupakan pengembangan lebih lanjut atas budayadrum band yang sebelumnya berada di bawah naungan organisasi PDBI (singkatan dari “Persatuan Drum Band Seluruh Indonesia”) yang dibina oleh Menpora (singkatan dari “Menteri pemuda dan olahraga”). Orkes barisan lahir sebagai kegiatan yang memfokuskan penampilan pada permainan musik dan visual secara berimbang, berbeda dengan drum band yang lebih memfokuskan sebagai kegiatan olahraga. Dalam perkembangannya, orkes barisan di Indonesia banyak mengadaptasikan variasi teknik-teknik permainan yang digunakan oleh grup-grup drum corps di Amerika, khususnya pada instrumen perkusi. Hal ini membuat corak permainan dalam penampilan orkes barisan menjadi lebih mudah dibedakan dari corak penampilan drum band.
Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penampilan orkes barisan umumnya dapat dikelompokkan pada beberapa kategori menurut jenis dan cara memainkannya. Pengelompokkan ini secara tidak langsung pula memengaruhi struktur organisasi kepelatihan yang umumnya dispesifikasikan menurut kategori-kategori tersebut, masing-masing kategori memiliki pelatih tersendiri. Selain kepelatihan, pengelompokkan ini umumnya berpengaruh pula pada perilaku sosial para pemain yang terlibat dengan menciptakan kelas-kelas sosial non-formal yang membentuk kebanggaan kelompok.
Instrumen musik tiup
Pada mulanya, ragam instrumen musik tiup yang digunakan dalam orkes barisan identik dengan yang digunakan drum band (orkes barisan versi terdahulu). Namun pada perkembangannya, beberapa jenis instrumen musik tiup seperti cornet, clarinet, flugelhorn,saksofon (termasuk di dalamnya sofrano, alto, dan tenor), trombone, sousaphone, dan fluteyang jamak digunakan sebelumnya sudah ditinggalkan. Umumnya, instrumen musik tiup yang digunakan dalam orkes barisan menggunakan nada dasar B♭ atau F. Jenis-jenis instrumen musik tiup yang digunakan orkes barisan umumnya adalah:
 Trompet
 French Horn
 Mellophone
 Tenor Horn
 Baritone, Euphonium
 Contra Bass/Tuba
Instrumen musik perkusi
Instrumen musik perkusi dalam orkes barisan merupakan jenis instrumen bergerak yang dibawa oleh pemain dan dimainkan dalam barisan seperti halnya instrumen musik tiup. Seksi yang memainkan instrumen musik perkusi sambil berjalan disebut juga sebagai lini drum atau battery. Ragam instrumen musik perkusi yang digunakan orkes barisan umumnya lebih sedikit dari yang digunakan pada drum band. Instrumen-instrumen tersebut adalah:
 Snare drum
 Drum tenor / Quint
 Drum bass (umumnya menggunakan 4 sampai 6 jenis drum bass yang berbeda)
 Simbal
Instrumen pit (statis)
Instrumen pit pada dasarnya merupakan instrumen musik perkusi yang bernada. Pada penampilan orkes barisan, jenis instrumen ini bersifat statis, pemainnya tidak ikut dalam barisan seperti kelompok instrumen lainnya melainkan memainkannya di bagian depan lapangan yang digunakan dalam penampilan. Ragam jenis instrumen yang digunakan orkes barisan umumnya lebih bervariatif dibandingkan drum band (orkes barisan terdahulu). Beberapa grup orkes barisan bahkan kadang-kadang merakit sendiri instrumen pit untuk menghasilkan suara-suara unik dalam musik yang dimainkan. Jenis-jenis instrumen pit yang umumnya digunakan pada penampilan orkes barisan antara lain:
 Xylophone
 Vibraphone
 Marimba
 Simbal
 Gong cina
 Timpani
 Drum bass konser
 Tubular bell
Instrumen bendera
Instrumen bendera tidak digunakan untuk bermain musik, melainkan dimanfaatkan oleh pemainnya sebagai alat bantu aksi tarian untuk menghasilkan efek-efek visual tertentu yang mendukung penampilan. Pada praktiknya, pemain instrumen ini tidak selalu menggunakanbendera sebagai aksesori, namun bisa menggunakan peralatan-peralatan lain seperti senapan kayu, selendang, panji-panji, atau bahkan sapu, tergantung pada koreografinya untuk mendukung penampilan secara keseluruhan. Namun biasanya instrumen dasar yang digunakan adalah; bendera, dan senapan kayu.
Aspek-aspek penampilan
Aspek-aspek yang terkait dalam penampilan orkes barisan pada dasarnya dikelompokkan dalam dua kategori utama, yaitu aspek musikal dan aspek visual. Pengelompokkan ini berpengaruh pula pada metode pelatihan pada proses penyiapan sehingga sebuah grup orkes barisan siap tampil. Umumnya latihan atas masing-masing aspek tersebut dilakukan secara terpisah terlebih dulu sebelum digabungkan sebagai sebuah penampilan utuh.
Aspek musikal
Lagu-lagu yang dibawakan dalam satu penampilan orkes barisan umumnya membawa saturagam yang sama atau merupakan kombinasi atas beberapa ragam dalam satu tema yang sama, namun ragam yang dibawa dalam satu penampilan tiap-tiap orkes barisan bisa berbeda-beda.
Secara struktural, umumnya karakteristik lagu-lagu yang dibawakan tiap-tiap orkes barisan memiliki tipikal elemen yang sama. Bagian “pembuka” yang ditujukan untuk mendapat perhatian penonton, “solo perkusi” atau disebut dengan feature, “balada” yang menampilkan solo musik tiup bersama dengan solo perkusi, dan “penutup” sebagai puncak dari penampilan. Di masing-masing elemen tersebut sering pula diwarnai dengan variasi teknik permainan, termasuk didalamnya permainan tempo, birama, yang ditujukan untuk mendapatkan satu dinamika permainan yang lebih seimbang, serta sebagai wahana menunjukkan keterampilan grup.
Aspek visual
Koreografi merupakan inti utama dari aspek visual dalam penampilan orkes barisan. Di dalamnya melingkupi alur pola atas formasi baris berbaris yang digunakan, aksi-aksi tarian yang dibawakan oleh para pemain bendera, gerakan-gerakan untuk menampilkan satu efek visual tertentu yang dilakukan oleh satu, sekelompok, atau seluruh pemain yang terlibat dalam formasi barisan. Seringkali penampilan marching band menggunakan aksesoris-aksesoris tambahan yang dimainkan oleh beberapa orang pemain untuk mendukung mendapatkan efek visual tertentu secara keseluruhan.
Perangkat lunak
Bentuk penampilan orkes barisan yang dinamis umumnya membuat kompleksitas aransemen lagu dan perancangan formasi barisan menjadi lebih tinggi. Para pelatih orkes barisan instrumen musik umumnya memanfaatkan perangkat lunak sebagai alat bantu untuk memecahkan tingkat kompleksitas tersebut dalam proses aransemen lagu, melakukan ekstraksi atas partitur ke dalam tiap-tiap kelompok instrumen musik (termasuk instrumen musik tiup, perkusi, dan pit). Demikian pula halnya dengan pelatih visual, perangkat lunak digunakan untuk mempermudah perancangan formasi barisan, simulasi dan analisis atas kemungkinan terjadinya tabrakan antar pemain, dan visualisasi permainan tiap lagu dalam suatu penampilan.
Beberapa perangkat lunak yang tersedia saat ini bahkan mampu menggabungkan desain formasi barisan dan aransemen musik sehingga menjadi suatu bentuk model pertunjukan yang digunakan untuk memberikan gambaran atas simulasi pertunjukan kepada seluruh pemain yang terlibat dengan tujuan untuk mempermudah pemain dalam memahami alur pertunjukan dan aliran pergerakan formasi barisan.

Perangkat lunak pembantu perancangan aransemen lagu

Perangkat lunak pembantu perancangan formasi barisan
Kompetisi
Kompetisi umumnya menjadi perangsang atas kemajuan orkes barisan di Indonesia. Dengan adanya kompetisi ini, masing-masing orkes barisan umumnya berupaya untuk mengembangkan, atau mengadaptasikan teknik-teknik permainan tertentu untuk menunjukkan kemampuan grup orkes barisan tersebut, atau menciptakan satu keunikan yang berbeda sehingga menjadi ciri khas penampilan suatu orkes barisan. Skala kompetisi ini bisa mencakup tingkat daerah, provinsi, ataupun nasional. Di Indonesia terdapat cukup banyak ajang kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan, namun yang umumnya frekuentif diselenggarakan secara konsisten adalah Grand Prix Marching Band.
Drumline
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk kegunaan lain dari drumline sebagai seksi perkusi dari marching band yang dibahas pada artikel ini, lihat Drumline (film).
Drumline merupakan seksi perkusi yang umumnya bermain sebagai bagian dari suatu penampilan ensembel musik yang dimainkan sambil berjalan.[1] Drumline biasanya tergabung dalam suatu grup marching band, namun kadang-kadang dapat pula eksis sebagai sebuah ensembel mandiri.[2] Istilah battery biasanya secara spesifik menunjuk pada bagian dari drumline. battery merupakan sekelompok orang dalam drumline yang melakukan beragam gerakan dan aksi manuver di lapangan. Instrumen-instrumen yang digunakan dalam battery biasanya terdiri atas snare drum, drum tenor yang dikenal pula sebagai quint-tom, drum bass, dan simbal.[2]Instrumen-instrumen lainnya yang digunakan dalam penampilan drumline yang umumnya bersifat statis disebut sebagai ensembel muka atau instrumen pit.[2] Instrumen pit tidak dimainkan dalam barisan seperti halnya battery, melainkan umumnya diletakkan di sebelah depan lapangan yang digunakan dalam penampilan.
Battery
Drumline Eagle High School, Amerika.
Pada masa lalu, selain dari instrumen-instrumen battery yang umum digunakan saat ini, marching timpani merupakan salah satu instrumen yang digunakan sebagai bagian dari battery. Namun dalam perkembangannya, instrumen ini pada akhirnya diadaptasikan penggunaannya sebagai instrumen pit. Demikian pula halnya dengan instrumen pit lainnya seperti lira, silofon, dan vibraphone. Dalam penampilan marching band modern saat ini para pemain snare drum, tenor, drum bass, dan kadang-kadang simbal umumnya disebut pula sebagai battery, sementara pit, atau ensembel muka, sebagai perlengkapan yang dimainkan di depan lapangan permainan.
Komandan Lapangan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Drum major Marching Band Universitas Texas Tech
Drum Major, atau Field Commander, atau Komandan Lapangan adalah pemimpin dari suatu penampilan marching band yang diperankan oleh satu atau dua orang yang memimpin penampilan di atas panggung ataupun podium. Seorang komandan lapangan bertugas memberi perintah baik secara verbal, menggunakan isyarat melalui gerakan tangan, ataupun baton atas suatu gerakan dalam barisan, artikulasi suara, ataupun menjaga tempo dalam permainan. Pada penampilan parade sebuah drum band, peran komandan lapangan kadang-kadang digantikan pula oleh mayoret. Biasanya seorang komandan lapangan mengenakan seragam yang berbeda dari yang dikenakan oleh pemain lainnya, umumnya menggunakan ornamen dan aksesoris yang lebih mencolok sehingga menarik perhatian publik.
Sejarah
Keberadaan komandan lapangan dalam marching band bermula dalam tradisi korps drum militer inggris di tahun 1650. Kalangan militer saat itu umumnya melaksanakan instruksi ataupun berperang atas instruksi yang diberikan melalui isyarat dari komandannya, dan penampilan korps drum yang dipimpin oleh komandan lapangan bertugas memberikan instruksi-instruksi dalam bentuk isyarat kapada seluruh pemain.
Pada dasarnya, komandan lapangan korps drum militer bertanggung jawab atas:
 Pemberi instruksi pada seluruh pemain
 Disiplin militer atas seluruh anggota dalam korps drum
 Standar seragam dan aksesoris penampilan seluruh pemain
 Melaksanakan fungsi administratif korps
 Melatih dasar baris-berbaris militer, koreografi, dan gerakan pemain
Notasi musik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Notasi musik adalah sistem penulisan karya musik. Dalam notasi musik, nada dilambangkan oleh not (walaupun kadang istilah nadadan not saling dipertukarkan penggunaannya). Tulisan musik biasa disebut partitur.
Notasi musik standar saat ini adalah notasi balok, yang didasarkan pada paranada dengan lambang untuk tiap nada menunjukkan durasi dan ketinggian nada tersebut. Tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu (ritme) digambarkan secara horisontal. Durasi nada ditunjukkan dalam ketukan.
Terdapat pula bentuk notasi lain, misalnya notasi angka yang juga digunakan di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, India, danTiongkok.
Notasi balok
Notasi Gregorian awal notasi balok
Notasi Gregorian, ditemukan oleh Paus Agung Gregori pada tahun 590, .[1] adalah awal penulisan musik dengan not balok. Namun, Notasi Gregorian belum ada panjang nada (dinyanyikan sesuai perasaan penyanyi) dan masih dengan balok not yang 4 baris.
Not balok yang sekarang ini telah sempurna sekali untuk musik dibandingkan Notasi Gregorian.
[sunting]Unsur-unsur notasi balok
Interval not antarspasi (atau antargaris) adalah terts, sedangkan interval antara garis dan spasi adalah sekunde.
Dalam notasi balok, sistem paranada bergaris lima digunakan sebagai dasar. Bersama dengan keterangan mengenai tempo, ketukan, dinamika, dan instrumentasi yang digunakan, not ditempatkan pada paranada dan dibaca dari kiri ke kanan. Durasi nada dilambangkan dengan nilai not yang berbeda-beda, sedangkan tinggi nada dilambangkan dalam posisi not secara vertikal pada paranada. Interval dua not yang dipisahkan satu garis paranada (yaitu berada pada dua spasi yang bersebelahan) seperti digambarkan pada ilustrasi di samping merupakan interval terts, sedangkan interval antara not pada spasi dengan not pada garis adalah interval sekunde. Tanda kunci pada awal paranada menunjukkan tinggi nada yang diwakili oleh garis dan spasi pada paranada tersebut. Pada gambar di samping, kunci-Gdigunakan, menandakan bahwa garis kedua dari bawah melambangkan nada g¹. Dengan demikian, interval terts pada gambar di samping adalah pasangan nada a1–c2, sedangkan interval sekunde merupakan pasangan nadaa1–b1. Not-not yang melambangkan tinggi nada di luar jangkauan kelima garis paranada dapat digambarkan dengan menggunakangaris bantu yang diletakkan di atas atau di bawah paranada.
Contoh penggunaan notasi balok
Penggunaan notasi balok dijelaskan dalam contoh yang diambil dari bagian awal karya Johann Strauss, An der schönen blauen Donauyang disederhanakan ( perdengarkan).
Bagian awal An der schönen blauen Donau yang disederhanakan.
1. Di sebelah kiri atas pada awal lagu biasanya ditempatkan petunjuk tempo (yaitu kecepatan lagu), seringkali dalam bahasa Italia, yang di sini menunjukkan “tempo waltz”. Selain itu juga terdapat penanda metronom dalam satuan BPM (beats per minute), di sini 142 ketukan per menit.
2. Tanda birama menunjukkan ritme lagu. Angka di bagian atas tanda birama menunjukkan jumlah ketukan per birama, sedangkan angka di bawah menunjukkan nilai not per ketukan. Tanda birama 3/4 di sini menunjukkan bahwa terdapat tiga ketukan dalam birama, satu ketukan kuat diikuti dua ketukan lemah, dan masing-masing ketukan bernilai not seperempat.
3. Garis birama merupakan pemisah antarbirama.
4. Pada bagian awal paranada terdapat kunci-G yang menandakan bahwa garis kedua dari bawah melambangkan nada g¹(berfrekuensi sekitar 418 Hz).
5. Tanda mula utama yang di sini terdiri dari dua tanda mula kres pada garis nada c dan f menunjukkan bahwa kedua nada tersebut dinaikkan setengah nada dalam semua oktaf (dimainkan sebagai nada cis dan fis) serta menunjukkan bahwa karya musik bersangkutan bertangga nada D mayor atau B minor.
6. Not pertama adalah not seperempat dengan nada d1, dengan dinamika (nyaring lembutnya suara) mf (bahasa Italia, mezzo forte: agak nyaring). Dapat dilihat bahwa not tersebut langsung diikuti garis birama walaupun tiga ketuk dalam birama tersebut belum selesai. Dengan demikian, karya ini dimulai bukan dengan ketukan pertama bertekanan, melainkan dengan ketukan ketiga lemah dalam suatu birama pembuka (anacrusis).
7. Not kedua juga merupakan not seperempat dan bernada d1 yang jatuh pada ketukan pertama dalam birama berikutnya.
8. Tanda legato menghubungkan not d1 tersebut dengan not fis1 dan a1, menandakan bahwa ketiga not tersebut harus dimainkan secara legato (sambung-menyambung).
9. Pada birama berikutnya terdapat not setengah bernada a1 berdurasi dua ketukan.
10. Berikutnya terdapat not seperempat dengan dua kepala not pada posisi nada fis2 dan a2, menandakan bahwa kedua nada tersebut harus dimainkan bersamaan. Di atas not tersebut terdapat tanda staccato, menandakan bahwa not tersebut harus dimainkan secara staccato (terpisah nyata dari not sebelum dan sesudahnya).
11. Tanda diam seperempat menandakan bahwa tidak ada nada yang dimainkan selama (dalam hal ini) satu ketukan.
12. Di bawah tiga birama terakhir terdapat tanda decrescendo, menandakan bahwa pada ketiga birama tersebut terdapat perubahan dinamika, yaitu dimainkan makin melembut (dapat juga ditulis decresc. atau dim., diminuendo).
Notasi Angka
Dalam notasi angka, not ditentukan dengan angka 1 (do), 2 (re), 3 (mi), 4 (fa), 5 (sol), 6 (la) dan 7 (si). Nada 1 tanpa titik merupakan nada C natural di notasi balok. Tanda satu titik di atas not, menunjukkan bahwa not tersebut naik satu birama dari nada asli, sedangkan tanda satu titik di bawah not menunjukkan bahwa not tersebut turun satu birama dari nada asli.
Membaca Notasi Angka
Notasi angka 4 suara SATB
1. Do = G menunjukkan nada dasar lagu tersebut.
2. 4/4 menunjukkan Tanda birama yang menunjukkan ritme lagu. Angka di bagian atas tanda birama menunjukkan jumlah ketukan per birama, sedangkan angka di bawah menunjukkan nilai not per ketukan. Tanda birama 4/4 di sini menunjukkan bahwa terdapat empat ketukan dalam birama, satu ketukan kuat diikuti tiga ketukan lemah, dan masing-masing ketukan bernilai not seperempat
3. Tempo = 66 menunjukkan tempo lagu, artinya dalam satu menit ada 66 ketuk.
4. SATB menunjukkan tipe suara yang menyanyikan baris tersebut.
5. P berarti ‘piano’ yang berarti lembut, artinya lagi ini dengan dinamika yang lembut.
6. Tanda Crescendo yang dilanjutkan dengan tanda decrescendo, menunjukkan ada perubahan dinamika, yakni mengeras, kemudian melembut lagi.
7. Garis birama yang merupakan pemisah antar birama.

B-R-A-S-S !!

Dear my brass section..
Dan tadi adalah latihan gue yang terakhir sebelum KP selama 2 bulan ke depan. Meskipun tadi masih banyak yang harus dibenahi dari permainan kita, gue tetep senang dengan semangat kalian yang cukup oke. Apalagi pemaen Burgundy yang udah niup dari jam 7 sampe jam 11 tadi.
Teman-temin, gunain waktu yang ada dengan seefektif dan seefisien mungkin ya. Pokoknya kalian harus bisa membuat gue pangling dengan permainan kalian setelah gue balik dari KP. Gue tahu kalian pasti bisa. I can see it from your effort and progress.
Gue padahal pingin banget ngrasain capeknya latihan intensif BMBC bareng kalian. Gue pingin banget ada bersama kalian pas momen2 yang paling berkesan nanti. Damn, I’ll miss you guys so much.
Baik-baik ya kalian selama 2 bulan ke depan. Harus saling lebih deket satu sama lain pas intensif nanti .Kalian nanti juga jangan kaget ya kalo mungkin secara random gue nelpon salah satu dari kalian.
Gue ntar selama KP juga bakalan tetep latihan bagaimanapun caranya. Yang pasti buzzing. Kalo sempet latihan DS sendiri ya bakal gue lakuin. Gue juga ga mau kalah dari kalian donk.
Aduh, maaf ya kalo mungkin ada yang mikir “kok lebay amat sampe bikin post ginian”. Yaa…alesannya simpel. Soalnya gue udah terlalu sayang sama kalian. Ga cuma brass aja tapi semua aspek MBWG. Gue blom pernah ninggalin MBWG lebih dari 2 bulan soalnya. Paling lama itu 1,5 bulan lah kalo pas lagi liburan panjang.
Bersama dengan post ini, gue juga mau share sesuatu. Coba dibaca ya. Siapa tahu berguna buat kalian ke depannya. =)
(diambil dari cuplikan ucapan ulang tahun dari Andhika untuk Inasha Vaseany, 7 Mei 2012)
Filosofi Hidup Marching Band
Dari long note, saya belajar bagaimana mempertahankan kondisi ideal selama mungkin
Dari slurr, saya belajar bagaimana hal yang susah akan lebih mudah diraih dari hal yang serupa di bawahnya
Dari stacatto, saya belajar bagaimana kita harus bisa menjadi sosok yang tegas bila diperlukan
Dari konser fraksional, saya belajar bagaimana menyeimbangkan saya dengan lingkungan
Dari konser band, saya belajar mengenai peran saya di kehidupan yang terdapat beragam karakter
Dari roll step, saya belajar bagaimana menjalani kehidupan dengan mengalir sekaligus kokoh di waktu yang bersamaan
Dari display, saya belajar bagaimana kompleksitas kehidupan dan perjuangan untuk mendapatkan yang terbaik tidaklah mudah. But it’s all possible.
Dari marching band, saya belajar bahwa kita tidak hidup sendirian.
Dari marching band pula, saya belajar untuk terus mencoba bukan hingga benar tetapi hingga tidak pernah melakukan kesalahan lagi.
Dan dari marching band, saya mempunyai keluarga baru yang sangat saya cintai. That’s priceless.

I LOVE MARCHING BAND

Sebagai seorang remaja saya tidak mau masa muda saya terlewatkan begitu saja tanpa diisi dengan kegiatan yang berguna, saya juga tidak mau hidup saya sama saja seperti remaja biasa lainnya yang tidak memiliki pengalaman yang bisa dibanggakan, saya ingin dalam hidup saya lain dari remaja biasanya dan bisa memiliki kebanggaan tersendiri yang belum tentu dimiliki orang lain. Mungkin memang banyak remaja yang berpikiran seperti saya dan banyak juga jalan yang mereka pilih untuk kebanggaan hidupnya. Sudah cukup banyakkegiatan yang saya ikuti untuk bisa memiliki kebanggan tersendiri, diantaranya mengikutu keanggotaan bulu tangkis, basket, bahkan cheerleaders, tapi ternyata marching band menjadi pilihan saya yang bisa saya banggakan.
Saya mengikuti kegiatan marching band belum lama, saya masuk ke unit Nawala Pos Indonesia Marching Band pada tanggal 5 November 2006, pada saat itu saya duduk di bangku kelas 2 SMA, terbilang telat mungkin, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar bukan ?. Saat masuk marching band, tidak ada alat musik yang saya kuasai, pengalaman saya hanya di bidang tari yaitu saat saya mengikuti kegiatan cheerleader di sekolah, maka saat masuk marching band saya masuk ke section colour guard, yaitu section marching band sebagai visualisasi yang dasarnya menari balet dan memainkan bendera.
Tiga tahun mengikuti marching band saya rasa belum ada apa-apanya. Masih banyak yang belum saya ketahui lebih dalam. Yang saya tahu marching band adalah band yang berjalan (marching=jalan). Disini maksudnya mungkin memainkan alat musik yang berjalan tidak diam ditempat. Yang saya tahu ada tiga jenis pertunjukan marching band, yaitu parade, pertunjukan marching band yang dibawakan dengan barisan rapi tang berjalan, lalu konser, pertunjukan marching band yang dibawakan diam di tempat, dan yang paling seru menurut saya ialah display, yaitu pertunjukan marching band yang berjalan membentuk formasi-formasi yang berubah-rubah.
Dalam marching band terdapat beberapa section, diantaranya section alat tiup (brass line) biasanya terdiri dari trompet, mellophone, trombone, barithone, dan tuba. Lalu section alat pukul (percussion line) biasanya terdiri dari snare, tom, bass drum, dan simbal. Section pitt instrumen. Section colour guard, sebenarnya tidak hanya menari sambil memainkan bendera, ada beberapa alat lain yang digunakan misalnya tongkat, riffle, dan cyber, benderapun terdapat beberapa jenis, diantaranya standart, single, double, giant, super giant, dan bendera T. Yang mengatur jalannya musik marching band disebut field commander (FC).
Saya bergabung di unit Nawala Pos Indonesia Marching Band, yaitu marching band unit binaan PT. Pos Indonesia. Unit ini berdiri pada tahun 1996 tepatnya 17 September 1996. Di Indonesia sendiri banyak sekali unit marhing band yang bagus-bagus.
Manfaat yang saya dapatkan dari mengikuti kegiatan ini cukup banyak, diantaranya musik skill, meskipun pada awalnya tidak menguasai sama sekali alat musik tapi disini akan diajarkan betul-betul dari nol. Self-confidance, di marching band kita diajarkan mamiliki rasa percaya diti yang tinggi, rasa percaya diri sebagai bintang. Teamwork, sebagai sebuah unit yang terdiri dari banyak orang di dalamnya, kita harus memiliki teamwork yang kuat, kebersamaan yang kuat demi kekuatan unit kita. Health and fitness, dengan program latihan yang ada maka kita berolahraga juga selama latihan, jadi badan kita akan sehat. Acievement, leadership, loyalty, karena kita mendapatkan uang bulanan dan mendapatkan uang tampil J, community identity, self-esteem and fun J.
Pengalaman yang paling tidak terlupakan selama mengikuti marching band ialah menjadi peserta Grand Prix Marching Band (GPMB)yaitu kejuaraan marching band tingkat nasional yang memperebutkan piala bergilir presiden. Kejuaraan ini diadakan satu taun sekali, biasanya di akhir taun dan diadakan di istora gelora Bung Karno. Dalam kejuaraan ini setiap marching band diberi waktu 12 menit untuk menunjukan display, musik, gerakan colour guard, dan costum terbaiknya. Kejuaraan ini selalu diikuti Marching band-marching band se Indonesia. Kejuaraan ini diadakan selama dua hari, hari pertama merupakan babak penyisihan dan hari kedua merupakan babak final. Tahun ini merupakan tahun pertama saya mengikuti kejuaraan ini di GPMB ke XXV tahun 2009.
Target unit saya tahun ini memang bukan unuk jadi juara tapi menampilkan yang terbaik dan bisa masuk babak final. Unit kami memulai latihan dari bulan April, latihannya seminggu 3 hari tapi semakin mendekati kejuaraan jadwal latihan semakin diperpadat, belum lagi ada training center atau latihan terpusat, yaitu para anggota diasramakan dan difokuskan hanya untuk latihan.
Tahun ini,unit saya mengambil tema Final Fantasy VIII, dengan aransemen musik yng menarik, visualisasi dari colour guard, dan dengan teatrical supaya lebih menunjukkan tema. Unti saya berhasilmancapai tegetnya tahun ini. Kami main di babak penyisihan dan memperoleh pringkat 15 dari 21 unit yang main di divisi umum, sesuai peraturan yang berlaku 70% unit terbaik masuk final, dan unit saya pun berhasil masuk final meskipun menjadi juru kunci. Di final Nawala naik satu peringkat menjadi peringkat 14 mengalahkan marching Band Bulldozer Jakarta. Target Nawala tahun ini pun terpenuhi. Kerja keras kami selama 9 bulan tidak sia-sia.
Inilah pengalaman yang paling saya kenang di tahun 2009 ini, fokus saya di Marching Band tahun ini akhirnya bisa memenuhi target, meskipun karena ini mungkin kuliah saya sedikit terbengkalai L, banyak tugas yang telat dikumpulkan L tapi untungnya tidak sampai bolos kuliah J, maaf yahh para dosen, teman-teman, terutama orang tua saya J. Mungkin ini risiko yang harus saya terima dari keberhasilan saya memenuhi target marching band dan fokus saya untuk marching band di tahun ini. Tapi ini juga menjadi pelajaran untuk saya supaya saya lebih bisa membagi waktu dan mempriorotaskan yang lebih penting, saya akan terus belajar dan berusaha untuk itu agar bisa berhasil di semua bidang yang saya jalani. Semangat……. J !!!

MARCHING BAND SEBAGAI PENDIDIKAN BERKARAKTER


 
Di Indonesia, ada kalanya Marching Band dikategorikan dan dipersepsikan sebagai aktifitasolahraga fisik. Namun secara fungsi dan manfaat, Marching Band modern sudah dikolaborasikanantara kegiatan, fisik (baris-berbaris membentuk konfigurasi), bermain musik orkestratif, dan geraktari dan olah tubuh. Marching Band secara umum sudah bertransformasi dari kegiatan parade jalanuntuk mengiringi baris-berbaris militer, manjadi suatu pertunjukan musik dan gerak dalam lapangan(Kirnadi, 2004). Mills (1988) berpendapat bahwa Marching Band harus memiliki 10 dimensi manfaat,4 diantaranya berdimensi kesenian antara lain pertunjukan musikal (
musical performance),
musikyang berestetika
 (musical aesthetics),
pencapaian musikal
 (musical achievement),
pengembanganmusik
 (musical development).
 Manfaat tersebut seyogyanya dapat menjembatani kekuranganpendidikan musik pada pendidikan formal di sekolah-sekolah di Indonesia. Selain manfaat secaramusikalitas, Marching Band juga berkaitan erat dengan seni tari kontemporer dan tradisional. Gerakolah tubuh yang diperagakan oleh
colorguard 
menambah citra seni dalam marching band,mentransformasikan keindahan visual yang disesuaikan dengan ritme lagu yang dimainkan. Fungsigerak disini tidak terbatas pada gerakan bendara, namun dipadukan dengan dasar-dasar olahtubuh
ballet 
 dan tari kontemporer maupun tradisional Indonesia.3. Fungsi SosialKontribusi lain adalah bahwa Marching Band dapat meningkatkan kemampuan sosial dan individualseseorang. Mills (1988) mengatakan bahwa manfaat Marching Band secara sosial adalahpeningkatan hubungan sosial (
social enrichment),
 pencapaian tim
 (group accomplishment),
identitasinstitusi
 (school identity),
 peningkatan diri
 (self-improvement),
peningkatan
interpersonal skills,and
rekreasi. Ia menambahkan bahwa remaja yang aktif dalam kegiatan Marching Band dapatmeningkatkan kemampuan sosial kemasyarakatan ketimbang mereka yang tidak mengikutiorganisasi ini. Hermawan (2010) menambahkan pula bahwa marching band dapat meningkatkankemampuan berorganisasi dan manajemen antar anggota, antara lain kepemimpinan, manajemenwaktu, rekrutmen anggota, manajemen musik dan pelatihan.LANGKAH STRATEGISDalam rangka perwujudan masyarakat Indonesia yang berkepribadian dan berkarakter positif,Marching Band dapat menjadi salah satu solusi terhadap kondisi remaja Indonesia yang diliputi olehkekerasan fisik dan tindakan negatif lainnya. Kekurangan pendidik seni merupakan salah satukendala yang ada saat ini, sehingga solusi yang memungkinkan adalah melakukan kerjasamabilateral antara Indonesia dengan negara-negara yang memiliki standar pendidikan seni yangmapan, antara lain Amerika Serikat, Selandia Baru dan Inggris. Usulan kerjasama dalam pendidikankarakter dan seni ini seyogyanya dapat menjembatani pendidikan musik formal maupun non-formaldi Indonesia. Kegiatan Marching Band di Amerika diwadahi oleh beberapa organisasi nirlaba
(non- profit organisation)
 seperti Drum Corps International atau disingkat DCI. Organisasi ini bertugasmewadahi unit-unit Drum Corps di Amerika Serikat dan Internasional dan menyelenggarakankompetisi bergengsi setiap tahunnya. Selain kompetisi, DCI juga mempunyai divisi pendidikan untukmemberikan pelatihan dan klinik secara domestik maupun internasional. Salah satu unit, yaitu TheBlue Devils, pernah memberikan
coaching clinic
 di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2011kepada unit-unit Marching Band se-Asia Tenggara.Figure 4. Coaching Clinic oleh The Blue Devils di KL, MalaysiaKolaborasi antara unit-unit Marching Band di Indonesia dan Amerika Serikat merupakan salah satulangkah konkrit yang dapat didukung oleh pemerintah Indonesia, dalam rangka peningkatankemampuan bermusik dan seni bagi sekolah-sekolah, baik yang belum maupun yang sudahmempunyai unit marching band. Dua perspektif dibawah ini menggambarkan keuntungan dalamkolaborasi antar unit Marching Band Indonesia dengan Amerika Serikat:
 
1.
 
Perpektif Indonesia.Marching Band di Indoneisa dapat memperoleh manfaat antara lain:1.
 
Peningkatan metode pembelajarn musik, baik di dalam kelas maupun di lapangan. Dengandidatangkannya pelatih dan pendidik dari unit Marching Band luar, unit Marching Band diIndonesia dapat belajar bagaimana membuat system pengajaran musik yang sesuaistandard internasional serta terstruktur, sesuai dengan tingkat kemampuan musik diIndonesia. Indonesia membutuhkan metode pembelajaran musik yang efektif dankomprehensif serta dapat diaplikasikan ke dalam pendidikan formal di sekolah, maupunpendidikan musik non-formal seperti di kegiatan Marching Band.2.
 
Dengan diperkenalkannya metode efektif belajar musik, kualitas pendidikan seni, baik di kotabesar maupun kota-kota kecil dapat ditingkatkan. Banyak dari unit-unit Marching Band didaerah kekurangan informasi dan edukasi mengenai Marching Band, sehingga kerjasamatersebut sangat diperlukan untuk peningkatan kemampuan bermain musik.3.
 
Kerjasama ini tidak hanya berfokus pada peningkatan seni musik, tetapi juga peningkatansegi tari dan gerak, yang mana pendidikan seni tari kontemporer telah dikembangkan olehsekolah-sekolah di Amerika Serikat. Pendidikan seni visual dan koreografi sangatdibutuhkan oleh sebuah marching band, dimana mereka telah mengembangan pendidikanmengenai dasar-dasar tari, ballet dan seni pertunjukan.1.
 
Perpektif Amerika Serikat.Kerjasama ini juga berdampak positif pada Negara mitra seperti Amerika, antara lain:1.
 
Seni pertunjukan Barat, bersama dengan studi kontemporer akan memperoleh manfaatdengan menggabungkan unsur budaya timur, terutama seni tradisional Indonesia. Sebuahstudi komprehensif seni Indonesia dapat dikembangkan menjadi salah satu kurikulum diuniversitas mitra.2.
 
Sebuah studi dari marching band di Indonesia juga akan menjadi topik yang menarik untukstudi pendidikan universitas mitra. Faktor-faktor seperti kondisi daerah terpencil Indonesiayang mempunyai unit Marching Band, kurangnya instrumen yang memadai dan pendidik ditempat-tempat tersebut, dan budaya serta tradisi masyarakat Indonesia; menjadi objekpenelitian menarik bagi studi universitas mitra.3.
 
Musik dan visual adalah sebuah seni kreatif dan kontemporer yang belakangan ini menjaditopik menarik seniman dan pembuat lagu untuk dieksplorasi. Sebuah kolaborasi penelitiuntuk menjelajahi daerah ini kemungkinan akan menjadi topik yang menarik untuk hadirdalam Konferensi Internasional musik dan seni di seluruh dunia.RINGKASAN DAN KESIMPULANPemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan dapat mendukungterselenggaranya pendidikan music yang berkarakter serta dapat menunjang pendidikan formaldalam sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai pendidikan non-formal,Marching Band memberikan solusi alternatif dalam berkreatifitas seni dan olahraga yang tidak biasditawarkan oleh kurikulum sekolah yang ada sekarang.Marching Band adalah sebuah organisasi multi-disiplin berbasis apresiasi music dan gerak, yangdapat membantu membentuk karakter positif seorang remaja. Pengenalan ilmu musik, pengalamanberorganisasi, pengenalan kedisiplinan dan akuntabilitas diri, dan sarana bersosialisasi dan rekreasimerupakan beberapa manfaat riil yang dapat dirasakan seorang anggota Marching Band selamaberaktifitas, maupun setelah bekerja di dunia nyata. Marching Band juga dapat menyatukan semua
 
kalangan muda, unsur latar belakang seseorang, agama, dan etnis untuk bersama-samamenciptakan suasana sportif dan berseni, berkompetisi di jalan yang sehat dan positif.BibliografiAnjari, W. (2012). TAWURAN PELAJAR DALAM PERSPEKTIF KRIMINOLOGIS, HUKUM PIDANA,DAN PENDIDIKAN.
MAJALAH ILMIAH WIDYA, 29
(324).BlogBappenas. (2013). Empat puluh tahun dari sekarang, sebesar apakah ekonomi Indonesia?Retrieved 14 July, 2013, from http://www.bappenas.go.id/blog/?p=345 Erdmann, L. D., Graham, R. E., Radlo, S. J., & Knepler, P. L. (2003). Adolescents' Energy Cost InMarching Band.
Perceptual and motor skills, 97 
(2), 639-646.Hermawan, M. (2010). Interaksi multi disiplin ilmu dalam sebuah organisasi; Studi kasus organisasiMarching Band.
 Jurnal Universitas Paramadina, Conference edition
(1), 34-40.Interaktif, T. (2013). Indonesia in 2050.
Tempo Interaktif 
 Retrieved 14 July, 2013,fromhttp://en.tempo.co/read/news/2013/07/03/240493259/Indonesia-in-2050 JaringNews. (2012). 2050, Ekonomi Indonesia Terbesar Ke-4 di Dunia Retrieved 14 July, 2013,from http://jaringnews.com/ekonomi/umum/25772/-ekonomi-indonesia-terbesar-ke--di-dunia Kemendikbud. (2013). Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Retrieved 14 July,2013, from http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/tentang-kemdikbud-visi Kirnadi. (2004).
Pengetahuan Dasar Marching Band 
 (Vol. 1). Jakarta: Citra Intirama.Mack, D. (2007). Art (Music) Education in Indonesia: A Great Potential but a DilemmaticSituation.
Educationist, I
(2), 62-74.Mills, D. L. (1988).
The meaning of the high school band experience and its relationship to bandactivities.
 Unpublished Doctor of Philosophy Dissertation, University of Miami.Rogers, G. L. (1985). Attitudes of high school band directors and principals toward marching bandcontests.
 Journal of Research in Music Education, 33
(4), 259-267.Zdzinski, S. F. (2004). Contributions of Drum Corps Participation to the Quality of Life of Drum CorpsAlumni.
Bulletin of the Council for Research in Music Education
, 46-57.